Gadis di Bangku Taman

Rabu, Januari 27, 2016

Gambar diambil di: http://id.aliexpress.com/cheap/cheap-park-bench-steel.html

Asap yang mengepul di udara itu berasal dari rokok seorang lelaki yang sedang bersandar di pagar besi taman kota. Belum juga asap yang membahana di udara itu sepenuhnya lenyap membuyar, ia menghisap kembali rokoknya dengan sangat dalam, hingga pipinya terlihat menyusut seperti seorang yang kerempeng. Asap rokok yang mengendap di tenggorokannya pun di hembuskannya hingga di sekitaran wajahnya terlihat putih sedikit tebal, seperti wajahnya dikepung oleh awan-awan langit yang bergerak. kemudian dia menunduk. Menutup matanya. Mendesah dengan nafas yang sangat panjang dan lelah.

“Seperti aku tidak pernah berguna sama sekali, cuihhh”. Katanya dengan nada yang kecil dan sedikit jengkel.
“Ibu mungkin sudah pikun, hingga lupa kalau aku pernah berjasa membasmi tikus yang membuatnya menjerit kesetanan”. Katanya lagi juga dengan nada pelan dan sedikit jengkel, di tambah bibir yang mencibir.

Bukan tanpa alasan lelaki itu ke taman kota. Ia sedang tak betah di rumahnya. Ia butuh ruang untuk berpikir dan menenangkan hatinya. Sekitar satu jam yang lalu, dia dimarahi habis-habisan karena telah menyiksa kucing kesayangan ibunya dengan menggunakan sapu, seperti menyiksa bajingan amatiran kelas teri yang sedang kedapatan mencuri roti.

Sebab Si Lelaki sangat jengkel kepada Si Kucing yang lagi asik menyantap makanannya, sementara ia tak disediakan makanan untuk sarapan paginya yang memang sudah sering kali tak dipenuhi oleh ibunya. Sambil duduk di depan meja makan yang hampa santapan, ia kemudian menoleh kesamping memandang Si Kucing yang tengah lahap makannya dengan tatapan kosong penuh kebencian, sambil mengaruk-garuk pantatnya.

 Kau tidak akan bisa mengganti posisiku di rumah ini pernah menjadi anak kesayangan, katanya dengan maksud berbicara dengan Si Kucing. Perkataan itulah sebagai pembuka untuk melampiaskan dengan memukuli Si Kucing secara membabi buta, dan berhenti melakukan tindakan sadisnya itu saat ibunya datang dan menyaksikan aksinya yang sungguh brutal dan kekanak-kanakan. Sambil memasang wajah yang menyeringai, ibunya lantas berteriak penuh murka di hadapan anak satu-satunya itu. Mungkin karena capek, ibunya lantas berhenti sejenak, mendesah dan berkata: Setidaknya kucing itu lebih berguna mengusir tikus daripada pengangguran lapuk sepertimu.

Sungguh sindiran yang sangat menusuk. Tapi dia tetap sadar diri, bahwa term pengangguran yang dilekatkan pada dirinya mau tidak mau harus diterimanya, meskipun dia tidak sepenuh hati menerima imajinasi ibunya yang menurutnya terlalu berlebihan, bahwa Si Kucing adalah mahluk yang lebih unggul darinya.

Sudah hampir lima tahun sejak menerima gelar sarjana hukum di sutau universitas, Si Lelaki tidak bisa membanggakan ibunya dengan gelar sarjana hukumnya itu. Sementara ibunya sangat berharap ia bisa menghidupi rumah tangga dengan gajinya sendiri. Ini wajar saja sebenarnya. Ayahnya telah meninggal saat masih kelas 3 SMP. Maka ibunyalah, yang hanya seorang guru privat, yang mengambil tugas untuk membiayai kebutuhan pendidikannya sampai meraih gelar sarjana dan juga membiayai keburuhan sehari-hari dirumah. Tapi saat ini ibunya tak sanggup lagi mengajar banyak anak-anak dari rumah ke rumah karena persoalan usia. Ibunya berhenti menjadi guru privat. Mau tak mau Si Lelaki harus segera mengganti posisi ibunya sebagai tulang punggung.

Si Lelaki sebenarnya sudah berusaha. Ia sudah mendatangi kantor bank manapun, ikut bersaing dalam penerimaan pegawai negeri sipil, mendatangi setiap kantor-kantor notaris agar bisa diterima menjadi pegawainya. Bahkan ia sudah mencoba untuk melamar menjadi pegawai marketing dan security di perusahaan manapun. Tapi segalanya terasa sia-sia: tak ada satupun yang mau menerimanya menjadi seorang pegawai dan belum ada yang menghubunginya untuk sekadar mendapatkan kesempatan tes wawancara.

Dia sempat menyalahkan nasib. Menuduh Tuhan tidak adil pada sebagian umat manusia termasuk dirinya. Dia selalu mewartakan keluhannya itu pada teman-temannya, tapi mereka tidak peduli. Bahkan salah seorang di antara temannya hanya mengatakan kau akan masuk neraka. Temannya yang berpenampilan mirip ustad, dengan jenggot yang panjang dan celana panjang di atas mataka kaki itu, tampak serius dalam ucapannya. Tapi dia tak peduli dengan ancaman itu. Neraka dan dunia apa bedanya, pikirnya. Sesekali dia mengeluh atas ketidakadilan Tuhan pada Si Kucing, meskipun Si Kucing tak mengerti dan hanya sibuk menjilati tangannya. Mungkin jadi kucing lebih baik, setidaknya tak ada yang perlu dipikirkan, katanya pada Si Kucing yang sama sekali tak peduli.

***
Sudah satu jam lelaki itu berdiri bersandar di pagar taman kota, masih dengan menikmati rokok. Entah mengapa dia tetiba menjadi tipe lelaki yang tenang, bahkan di saat kondisi emosionalnya sedang kacau. Bahkan dia tetap menyempatkan diri peduli dengan seorang anak kecil yang bola plastiknya menggelinding tepat dihadapannya, meskipun anak kecil itu menangis seperti melihat kuntilanak saat dia mengembalikan bola plastiknya. Dan dia juga peduli dengan seorang gadis yang duduk di bangku taman, yang tanpa gerak-gerik, seperti dalam pertapaan panjang di bawah Pohon Trembesi yang sudah ber tahun-tahun bercokol taman kota.

Sebenarnya sedari tadi dia memperhatikan Si Gadis yang pas sejajar berhadapan dengannya, jauh dan menirus. Dia tak bosan memandangi Si Gadis. Dilihatnya dari kejauhan, dia sudah bisa menyimpulkan kecantikan dan keanggungan Si Gadis. Insting lelaki itu memang kuat untuk mengenali sisi keindahan perempuan. Dia seorang pengamat perempuan. Tapi, justru karena itu dia hanya menjadi pengangum keindahan perempuan saja. Semantara pengalaman berpacarannya sama sekali tidak ada: dia seorang jomblo sejati. Yah, mirip-mirip pengamat sepak bola yang belum tentu tahu bagaimana bermain bola. Maka lengkap sudah kemalangan yang ia miliki: pengangguran dan jomblo.

Sekarang dia mulai berjalan pelan-pelan menuju perempuan itu, sekadar melihat dari dekat untuk membuktikan hipotesisnya. Sungguh perlakuan seseorang yang memang kurang kerjaan, atau perilaku jomblowan sejati yang masih mencari-cari pendamping hidup. Ia melangkah dengan santai sambil sesekali melirik kucing bertubuh koreng yang tidur pas di samping Si Gadis. Dilihatnya, Si Gadis tenang-tenang saja. Tak merasa terganggu dengan bau busuk Si kucing Koreng. Seolah Si Gadis menyenangi Si Kucing Koreng duduk disampingnya. Bahkan kucing paling busuk saja lebih beruntung ketimbang saya, pikirnya sambil mengutuk kemalangannya.

Tapi yang dipikirkan selanjutnya bagaimana mengusir Si Kucing Koreng agar dia bisa duduk disamping Si Gadis. Maka dia mengambil tangkai pohon mangga yang tergeletak di antara rerumputan taman kota sebagai alat mengusir Si Kucing Koreng yang penuh borok itu.

Ia telah sampai. Si Kucing Koreng pun diusirnya dengan menusuk-nusuk boroknya dengan tangkai pohon mangga. Tak susah untuk mengusirnya. sekali dua kali tusukan, Si Kucing Koreng langsung pergi karena kesakitan. Hehehehe, dia menertawai kemalangan Si Kucing Koreng, sembari bermasabodoh dengan kemalangannya sendiri.

Ia kemudian duduk di samping perempuan itu dan lupa kalau bekas-bekas borok Si Kucing Koreng masih menempel pada bagian bangku yang ia duduki.  Ia hanya diam memandang ke depan seperti yang dilakukan Si Gadis. Tak lama kemudian dia menoleh melihat wajah Si Gadis. Dilihatnya, Si Gadis sangat tenang dalam murung yang akut, seperti memasuki belantara khayal yang sudah sangat jauh menembus antah berantah. Entah kapan turun ke bumi lagi. Ia pasti punya masalah yang lebih berat dariku, pikirnya.

Pandangan Si Lelaki tak pernah berpaling pada wajah Si Gadis. Hipotesisnya tak salah. Si Gadis sangat cantik bahkan melampaui bayangan awalnya. Rambutnya hitam, panjang dan lurus. Rambut bagian depan dagunya tak berbentuk poni, tapi disisir menghadap kebelakang, dan diapit dengan jepit rambut berwarna hitam agar tak terurai. Sungguh pemandangan yang menakjubkan dengan alis yang agak sedikit tipis, mata yang kecil dengan jarak kedua mata sempit, kulit kuning langsat, dan bibir yang tipis merah muda. Keanggungannya kian mempesona dengan blus middy berwarna merah muda dan rok dirndl berwarna putih.

Semoga dia belum ada yang punya, pikirnya dengan menatap penuh nafsu. Si Lelaki tengah jatuh cinta pada pandangan yang pertama. Tapi terasa sia-sia jika tidak terbangun komunikasi intens dengan Si Gadis. Akhirnya dia membuka percakapan untuk memecah keheningan.

“Langit makin mendung, tidak beranjak pulang?”

Tak ada respon. Si Gadis tetap mematung. Beku dalam ruang khayal yang entah apa yang sedang dipikirkannya. Sementara Si Lelaki sedang menyusun kalimat lain yang sekiranya bisa memancing percakapan. Di sela-sela keheningan, ternyata ada yang luput dari pikiran  Si Lelaki meskipun sedari tadi telah melihatnya: sebuah kotak kubus berukuran cukup besar yang dibalut kantong plastik hitam yang sedang dipangku Si Gadis.

“Sepertinya benda itu penting yah, isinya apa?”

Tetap tak ada respon. Si Gadis masih dalam keadaan mematung. Si Lelaki merasa seperti seorang yang konyol sedang ngomong sendiri. Ia tak tahu mau ngomong apa lagi untuk memulai percakapan. Ia kemudian menatap kedepan dan mendesah. Pasrah.

“Isinya adalah hidup dan matiku”.  Si Gadis akhirnya bicara meskipun dengan nada yang datar dan raut wajah yang tawar.

Hal itu memancing Si Lelaki untuk kembali memandang Si Gadis. Kepalanya penuh tanda tanya, memikirkan maksud perkataan Si Gadis. Bahwa, apakah Si Gadis serius atau bercanda saat mengatakannya, atau hanya ngomong asal agar tak diladeni lagi dalam sebuah percakapan. Tapi kebingungannya tak menghalanginya untuk membalas percakapan.

“Maksudnya?”

Pertanyaan lelaki itu hanya dibalas tatapan kosong dan hambar oleh Si Gadis. Hanya sebentar, lalu memandang kedepan lagi. Sial, perempuan ini seperti tidak waras, pikirnya dengan dahi yang berkerut. Sehingga Si Lelaki justru merinding dengan sikap dingin Si Gadis yang mirip-mirip psikopat dalam film genre mistery dan thriller. Tapi Si Lelaki mencoba bersikap tenang sekadar menutupi rasa takut dan gemetarnya, kemudian berpikir untuk mengambil keputusan: pergi dari sini atau tetap bertahan.

Kalau aku pergi dari sini aku kehilangan kesempatan untuk mendekatinya, tapi jika tetap bertahan, bisa-bisa dia tiba-tiba membacok kepalaku, pikir Si Lelaki yang masih menganggap perempuan itu seperti psikopat. Tapi Si Lelaki tetap memilih bertahan, sembari melihat-lihat keadaan kiri-kanan-depan-belakang-bawah-atas, hanya untuk memastikan tak ada bahaya apapun atau senjata apapun yang Si Gadis sembunyikan untuk melakukan aksi mutilasinya.

“Tak ada yang perlu dikhawatirkan, aku bukan kuntilanak, aku bukan seseorang yang menakutkan, mungkin besok menjadi gentayangan”, ungkap Si Gadis sambil menghadapkan wajahnya dan melemparkan senyum hambar pada Si Lelaki, kemudian memandang kedepan lagi. Kembali murung.

Si Lelaki hanya tertawa kecil, meskipun tak tahu kalau Si Gadis sedang melucu atau serius melalui perkataannya tadi.

“Kamu pasti punya banyak masalah”. Kata Si Lelaki untuk menyegarkan situasi.
“Bukan masalah menurutku, tapi renungan, tentang sebuah pilihan hidup yang rumit”. Balas Si Perempuan dengan suara yang berat.

Sial, perempuan ini penuh teka-teki, pikir Si Lelaki sambil membentuk tekstur wajah kebingungan. Kemudian dia memperbakiki posisinya, sekadar memasang posisi yang seolah baik-baik saja.

“Ceritakanlah, mungkin aku bisa membantu”. Katanya tenang, yang bahkan dia saja tak bisa menyelesaikan keterpurukannya sendiri.
“Renungan ini....” Si Gadis mendesah, kemudian melanjutkan, “sepertinya tak harus dituturkan. Biarkanlah aku menikmatinya sendiri. Terkadang jiwa manusia butuh otonomi, memilih jalan hidupnya sendiri, tanpa bergantung pendapat orang lain”. Kata Si Gadis dengan nada yang lemah, terdengar  sedih dan getir.

Perempuan ini semakin membingungkan, jadi kita membincang apa dong kalau begitu, masa membincang kucing koreng yang aku tusuk boroknya, Pikir lelaki itu. Kemudian muncul rasa iba melihat keadaan Si Gadis yang memang terlihat sedih baik dalam diam maupun dalam berucapnya. Ada beban berat yang ia pikul saat ini. Dia juga baru sadar, wajah Si Gadis cukup pucat dan lelah seperti kurang tidur. Tapi ia tetap  meladeni perbincangan yang hambar, tak romantis, dan membingungkan ini, sembari menunjukkan bahwa ia juga jago mengolah kata-kata. Mungkin dengan ini Si Gadis menjadi bahagia, menikmati suasana, hingga menjadi terpesona dengannya. Ia bermaksud baik sambil menyelipkan kepentingannya di dalam.

“hmmmm.... tapi aku suka orang-orang sepertimu, menyisipkan waktu untuk sekadar merenung. Sebab aku suka perkataan Plato bahwa hidup yang tak direnungi adalah hidup yang tak pantas dijalani”. Kata Si Lelaki seolah-olah bijaksana.
“Sokrates”
“apa?”
“Itu perkataan Sokrates”
“Oh, maaf saya salah sebut”

Si Lelaki langsung merasa ciut, malu, serasa ingin membenturkan kepalanya di tembok. Ia lantas mengecek kebenarannya di mesin pencari google dengan menggunakan gadget. Setelah itu, dia menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal itu. Dasar dosen goblok, Bertahun-tahun aku percaya kalau itu Plato karena dia yang bilang, kenapa juga aku harus percaya kata-katanya, pikirnya geram sambil mengirimkan sumpah serapah dalam hati kepada dosennya yang goblok itu. Agar tak nampak semakin tolol di hadapan Si Gadis, ia pun kembali beratraksi.

“Mungkin Elizabeth Erorik benar bahwa hakikat perempuan itu merenung, sungguh feminis”
“Tapi saya pikir semua orang merenung, bukan cuma perempuan saja”
“Bisa jadi seperti itu”
“Bukan bisa jadi, memang iya”
“hmmmmm”

Seketika mereka diam, hanya ada suara desau angin kencang, petanda akan datang hujan keras. Mungkin sebentar lagi.

“Siapa itu Elizabeth Erotik?”. Tanya Si Gadis dengan bingung
“hmmmm anu... itu.... Feminis dari Prancis”
“Kok aku nggak tahu”

Ya iyalah, Elizabeth Erotik itu memang nggak ada, pikirnya serasa sudah memenangkan pembicaraan. Si Gadis kemudian berterima kasih padanya karena memberi ilmu baru. Padahal tidak tahu kalau itu cuma karangan Si Lelaki belaka. Tapi, justru disitulah akhirnya terjadi komunikasi yang lebih cair, dan pembicaraannya telah menyentuh banyak hal: kehidupan sehari-hari, masa kecil, hobi, dan banyak hal. Sehingga Si Lelaki  merasa bahwa Si Gadis mulai membuka ruang hatinya. Di tengah-tengah pembicaraan yang hangat itu, Si Kucing Koreng datang menggosok-gosok boroknya yang gatal di kaki Si Lelaki. Sudah lama. Tapi Si Lelaki tidak sadar saking dunianya sudah berpusat hanya satu orang saja.

“Lihat kucing itu di kakimu”. Si Gadis memberi tahu.
Tetiba Si Lelaki meloncat saking kagetnya. Tapi, kejadian itu membuat Si Gadis tertawa terbahak-bahak. Kejengkelan Si lelaki sirna saat melihat kebahagiaan Si Gadis. Baru kali ini ia baik hati pada kucing.

“Oh iya, kita lupa perkenalan”. Sahut Si lelaki

Tapi, sebelum mereka saling memperkenalkan diri, tiba-tiba datang tiga orang laki-laki. Dua orang bertubuh kekar, menggunakan kacamata, mungkin pengawal. Sementara yang satu lagi dandanannya rapi. Memakai jas hitam dan mulus. Rambutnya tertata rapi. Sepatunya kinclong. Dia tampak kaya raya. Mereka menghampiri Si Lelaki dan Si Gadis.

Mereka semakin dekat dan membuat Si Gadis kebingungan, seperti ada yang ia cari. Si Lelaki hanya mengerutkan dahi sembari berpikir hubungan antara tiga orang lelaki dan Si Gadis.

“Sebutkan nomor HP mu, cepat, cepat”. Kata Si Gadis dengan terburu-buru
“Oh, iya, 082293349838”

Si Gadis mencoba menghafal dengan cara mengulang-ulang terus nomor HP Si Lelaki, hingga tibalah ketiga lelaki itu di hadapan mereka.

“Ternyata kau di sini nak, dari tadi saya mencarimu” kata Si Pria Jas dengan tampang yang khawatir.

Kemudian dua lelaki bertubuh kekar itu mengantar Si Gadis entah menuju kemana, mungkin menuju mobil. Dalam lima langkah berjalan kaki Si Gadis membalikkan wajah ke arah Si Lelaki. Melempar senyum sambil menggerakkan mulutnya seperti komat-kamit membaca mantra. Sepertinya ia masih menghapal nomor HP Si Lelaki. Kemudian berbalik lagi.

Si Pria Jas memandangi Si Lelaki yang masih menatap kepergian Si Gadis, dan kemudian dibuat heran dengan ucapan terimakasih Si Pria Jas yang di alamatkan padanya.  Ternyata Si Pria Jas adalah paman dari perempuan itu. Diceritakannya bahwa sudah empat hari perempuan itu bersedih entah alasannya apa, dia juga tidak tahu. Dalam empat hari ini, perempuan itu mengurung diri di kamar, dengan wajah murung, dan tidak mau makan dan minum

 Si Pria Jas adalah paman yang menjaga Si Gadis setelah lima tahun silam paska meninggalnya kedua orang tuanya dalam kecelakaan mobil. Pernah Si Gadis mengalami hal serupa setelah meninggalnya kedua orang tuanya. Masa berlalu, Si Gadis kembali ceria seperti menemukan jiwanya kembali. Tapi pamannya itu, Si Pria jas,  menjadi heran dengan keadaan Si Gadis dalam lima hari ini. Rasa terimakasihnya pada Si lelaki karena alasan, bersama pria pengangguran itu, dia menjadi ceria kembali dan sudah mau mematuhi instruksi, padahal  sudah beberapa hari ini  susah untuk diajak komunikasi. Seperti boneka.

Tapi ada sebuah petanda lain dari tatapan Si Pria Jas pada Si Lelaki. Sepertinya Si Pria Jas merasa tak asing dengannya. Kemudian ia berjabat tangan pada Si lelaki dan dengan ramah Si Lelaki menerima penghormatannya.

“Datanglah besok ke kantorku, kita akan selesaikan surat lamaranmu di sana”.  Kata Si Pria Jas dengan senyum ramah dan pergi meninggalkan Si lelaki seorang diri.

Si lelaki kemudian ingat, paman Si Gadis  ternyata seorang notaris terkenal yang dulu didatanginya untuk maksud membawa surat lamaran. Ia sangat bahagia. Tertawa sendiri. Setiap orang memandanginya seperti melihat seseorang yang mulai gila.

Dalam kebahagiaannya, ia lantas teringat dengan kotak kubus yang ditinggalkan Si Gadis, entah kenapa. Dia penasaran, kemudian membuka untuk sekadar mengetahui isinya. Di dalamnya ada tali tambang, silet dan sobetan kertas yang bertulis: Nyala, mohon maaf, aku akan menikah dengan perempuan lain. Aku menghamilinya. Maaf. (Reza).

Hujan akhirnya turun juga.

---Muhajir---

You Might Also Like

2 komentar